Data fungsional biasanya diwakili oleh parameter International Roughness Index (IRI) yang dikumpulkan dengan alat Roughometer. Sedangkan data struktural biasanya diwakili oleh nilai lendutan permukaan jalan pada pembebanan tertentu. Beberapa alat pengukur lendutan permukaan jalan yang tersedia antara lain Benkelman Beam (BB), Falling Weight Deflectometer (FWD), ataupun Light Weight Deflectometer (LWD).
Penggunaan data lendutan dari FWD diakomodasi pada metoda-metoda perencanaan yang ada seperti AASHTO 1993, Austroad, SNI, dll. Untuk itu pada saat sekarang hampir semua perencanaan dan evaluasi perkerasan jalan, baik yang berupa perkerasan lentur maupun perkerasan kaku melibatkan penggunaan alat FWD. Agak mustahil saat ini untuk mengevaluasi perkerasan jalan ataupun untuk merancang tebal lapis tambah (overlay) dari suatu ruas jalan tanpa menggunakan data lendutan FWD. Bisa dikatakan sampai saat ini alat FWD masih merupakan primadona dalam teknologi perancangan struktur sistem perkerasan jalan.
Terdapat beberapa jenis FWD tergantung pada pabrik pembuatnya seperti Dynatest, JILS, Kuab, dll. Puslitbang Jalan dan Jembatan Kemenpera juga telah melakukan penelitian dan pengembangan alat sejenis yang disebut sebagai Alat Pengukur Kekuatan Jalan (APKJ). Gambar dibawah menunjukkan salah satu alat FWD yang diproduksi oleh Dynatest Denmark.
Gambar 1. FWD buatan Dynatest Denmark.
Sama seperti halnya FWD, alat LWD juga sudah diproduksi oleh beberapa perusahaan seperti Dynatest, Humboldt, Zorn, dll. Puslitbang Jalan dan Jembatan Kemenpera juga telah melakukan penelitian dan pengembangan alat sejenis. Gambar 2 menunjukkan sebuah alat LWD buatan Zorn Jerman.
Gambar 2. Alat LWD buatan Zorn Jerman.
Pada kesempatan yang lain akan kita bahas lebih dalam mengenai alat FWD dan LWD termasuk penggunaan dalam bidang teknik jalan raya pada umumnya. Selamat siang semuanya ....
Bandung, awal Januari 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar